Senin, 29 November 2010

Air Panas Keluar di Rumah Warga Medan

Suasana Jalan Sejati, Kompleks Perumahan Kodam I Bukit Barisan Medan, Sumatra Utara, mendadak ramai, Ahad (28/11) malam. Sejumlah warga mendatangi kediaman Syawaluddin untuk melihat semburan air panas yang muncul di dalam rumah.

Warga yang datang percaya jika air panas tersebut berkhasiat, meski belum ada penelitian dari pihak terkait. Mereka menganggap air tersebut berkah dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Di rumah Syawaluddin, warga berebut mencuci tangan dengan air panas. Bahkan, ada yang membasuh tubuh dengan air tersebut. Beberapa di antaranya bahkan membawa pulang air panas itu.

Dinas Pertambangan setempat sudah mengambil sampel air untuk penelitian. Rencananya, air tersebut bakal diuji di laboratorium. Masyarakat diharapkan tak percaya mitos sebelum ada penelitian dari lembaga terkait.

Kompetisi Mabarung Gong di Luar Bali Meriah

Musik etnik Bali atau mabarung gong ternyata banyak digemari di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI). Bahkan, di sana sempat digelar kompetisi untuk menguji mahasiswa memainkan mabarung gong. Ini adalah kompetisi pertama yang dilakukan di luar Bali.

Mabarung gong sebenarnya merupakan musik tradisional khas Bali yang sudah berkembang lama di Pulau Dewata. Namun, karena dianggap dinamis dan menyajikan harmoni musik yang indah, musik ini pun digemari dan berkembang pesat di luar Bali.

Buktinya, sejak beberapa tahun terakhir, mubarung gong dipelajari dan dimainkan di ISI. Tak hanya kampus Solo, musik tersebut juga dipelajari di ISI Yogyakarta, ISI Semarang, dan ISI Denpasar.

Lomba kali ini sengaja digelar di luar Bali untuk lebih memperkenalkan musik tersebut. Selain penampilan kelompok mabarung gong, musik etnik lagu daerah lain juga turut memeriahkan kompetisi. Tak heran bila suara gamelan jawa, degung khas Sunda dan musik etnis Makassar, Sulawesi Selatan, juga ikut terdengar.

Penampilan berbagai kelompok musik etnis diharapkan bisa menambah wawasan musik masyarakat. Selain itu juga menambah kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Harga Beras di Cianjur dan Sukabumi Naik

Harga beras di Pasar Induk Cianjur, Jawa Barat, mulai naik. Kenaikan harga beras di pasar itu dipicu cuaca ekstrem dan serangan hama tikus. Meski stok untuk dua bulan aman, harga beras merambat naik sejak dua pekan terakhir.

Pantauan SCTV, Jumat (26/11), harga beras di Pasar Induk Cianjur naik antara Rp 100 hingga Rp 300 per liter. Para pembeli berharap harga beras tidak terus naik dan bisa kembali normal.

Sementara di Pasar Induk Beras Johar, Karawang, Jabar, dalam tiga hari terakhir harga beras juga terus mengalami kenaikan. Kenaikkan berkisar antara Rp 200 hingga Rp 500 per kilogram. Selain akibat cuaca ekstrim baru masuknya musim tanam juga membuat pasokan beras ke pedagang berkurang.

Harga Bahan Pokok Naik, Pasar Sepi

Jelang akhir tahun selalu diwarnai dengan kenaikan harga. Ya seperti sebuah ritual. Tahun ini pun terjadi lagi. Kenaikan harga bahan-bahan pokok di antaranya beras, telur, dan minyak goreng rata-rata hingga seribu rupiah per kilogram. Harga telur dari Rp 14 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram.

Seiring kenaikan harga sejumlah pasar tradisional tampak sedikit sepi. Maklum naiknya harga kebutuhan pokok bisa jadi membuat konsumen enggan berbelanja. Kenaikan harga ini dianggap memberatkan terutama dirasakan Eni, warga setempat. "Wah susah. Tadinya dengan pemasukan segitu cukup. Sekarang pemasukan sebagai pensiunan kita jadi nombok," tutur Eni.

Setali tiga uang dengan yang dirasakan Nina, seorang pegawai negeri sipil (PNS). "Kalau kita rakyat kecil memang susah. Kita kan pegawai negeri jadi repot, pegawai negeri gajinya gak naik-naik," ucap Nina. Sementara sejumlah pedagang curiga kenaikan harga akibat kondisi cuaca yang tak menentu.

Beras Naik, Pemilik Warung Pusing

Sejak harga beras merambat naik, Nining, pemilik warung nasi di salah satu sudut Jakarta, merasa kelimpungan. Harga beras yang naik Rp 500 hingga Rp 700 per kilogram membuat Nining harus pandai-pandai memutar modal.

Kepada SCTV yang menemuinya belum lama berselang, Nining mengaku tak mungkin menaikan harga jual makanannya karena takut para pembeli akan kabur dan berpindah ke warung lain. Sementara harga beras yang semakin melambung membuat keuntungan yang didapat Nining makin kecil.

Tak hanya beras, jelang akhir tahun harga telur pun naik Rp 100 per kilogramnya. Demikian pula dengan minyak curah yang naik antara Rp 1.000 hingga Rp 1.500.

Pemerintah menyatakan sudah melakukan berbagai langkah. Di antaranya menggelar operasi pasar dan akan segera mengucurkan dana talangan untuk menstabilkan harga. Kini rakyat pun berharap janji pemerintah segera terealisasi agar mereka tak pusing.

Persediaan Menipis, Harga Sembako Naik

Menjelang akhir tahun, harga berbagai komoditas pangan terus merambat naik, terutama beras dan kebutuhan pokok lainnya. Misalnya harga berbagai jenis beras di Pasar Induk Martoloyo, Tegal, Jawa Tengah, yang dalam beberapa pekan terakhir merangkak naik. Kenaikan berkisar Rp 300 hingga Rp 500 per kilogram. Menurut para pedagang, kenaikan disebabkan semakin menipisnya persediaan beras serta tidak menentunya cuaca di sejumlah sentra produksi lokal seperti Brebes dan Pemalang, sehingga panen padi tidak merata.

Di Salatiga, Jateng, terhentinya pasokan sayur-mayur dari lereng Gunung Merapi berimbas pada naiknya harga sejumlah bahan kebutuhan pokok. Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas beras, minyak goreng, gula, cabai, sayur-mayur, dan telur. Beras dari harga Rp 6.000 naik menjadi Rp 7.200 per kilogram. Cabai rawit dari Rp 15 ribu menjadi Rp 20 ribu per kilogram.

Hal yang sama juga terjadi di Solo, Jateng. Kenaikan menyebabkan pendapatan para pedagang beras menurun 50 persen. Meski kenaikan hanya berkisar Rp 200 hingga Rp 300 per kilogram, tetap saja dirasa memberatkan. Harga beras standar seperti IR-64 naik menjadi Rp 8.000 per kilogram. Padahal sebelumnya paling tinggi hanya Rp 7.500 per kilogram.

Menurut para pedagang, kenaikan terjadi akibat terjadinya gagal panen di sejumlah wilayah pemasok akibat hama wereng. Selain beras, minyak goreng juga mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 20 ribu per kardus.

Di Kabupaten Lebak, Banten, akibat minimnya pasokan harga berbagai jenis beras lokal dalam sepekan terakhir terus naik antara Rp 300 hingga Rp 700 per kilogramnya. Selain beras, harga bumbu dapur seperti cabai dan bawang merah juga turut naik karena banyak petani yang gagal panen.

Di Pasar Induk Rangkasbitung, harga beras IR-64 kualitas rendah yang banyak dikonsumsi masyarakat, misalnya, naik dari Rp 5.700 menjadi Rp 6.300 per kilogram. Selain beras, harga sejumlah bumbu dapur seperti bawang merah mencapai Rp 17 ribu pe kilogram, naik dua kali lipat dari harga normal yang hanya Rp 8.000 rupiah.

Sementara itu, kenaikan harga kedelai hingga Rp 7.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 5.000 per kilogram mulai membebani para produsen tempe dan tahu di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sejumlah produsen di Desa Sugiwaras, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman, terancam gulung tikar lantaran tak mampu membeli bahan baku yang mahal. Sejumlah pengusaha menyiasatinya dengan cara mengurangi produksi dan
ukuran tahu serta tempe dari ukuran sebelumnya.

Petugas Masih Memburu Penembak di Abepura

Sebanyak satu peleton Komando Daerah Militer 17 Cendrawasih bersenjatakan lengkap, Senin (29/11) pagi, menyisir Gunung Abepantai. Lokasi ini diduga menjadi jalur kaburnya para pelaku penembakan empat warga Kampung Nafri, Abepura, kemarin siang.

Tim yang berjumlah 30 orang ini menyisir tiga jalur, yaitu Koya Koso, Abepantai, dan Tanah Hitam. Medan yang berat membuat tin kesulitan menangkap pelaku yang diduga lari ke arah pegunungan.

Sementara itu, hingga kini polisi masih terus merazia sejumlah kendaraan yang melintas di Kampung Abepantai. Kampung tersebut merupakan satu-satunya jalur menuju Kota Jayapura. Razia bertujuan untuk mencari senjata organik yang dipakai pelaku dan tentunya untuk mempersempit ruang gerak mereka.

Empat warga ditembak kelompok bersenjata di Jalan Tanjakan, Kampung Nafri, Kecamatan Abepura, Jayapura, Papua, kemarin pukul 10.45 WIT. Para pelaku yang berjumlah lima orang turun ke jalan memberondong tembakan ke arah taksi dan sepeda motor yang tengah melintas [baca: Empat Warga Ditembak, Satu Tewas].